Ngaji Ta'lim : Ilmu, Fiqih dan Keutamaannya

FASHAL : PENGERTIAN ILMU,  FIQIIH DAN KEUTAMANNYA

وأما حفظ ما يقع فى الأحايين ففرض على سبيل الكفاية، إذا قام البعض فى بلدة سقط عن الباقين، فإن لم يكن فى البلدة من يقوم به اشتركوا جميعا فى المأثم، فيجب على الإمام أن يأمرهم بذلك، ويجبر أهل البلدة على ذلك.


قيل: إن العلم ما يقع على نفسه فى جميع الأحوال بمنزلة الطعام لابد لكل واحد من ذلك.

وعلم ما يقع فى الأحايين بمنزلة الدواء يحتاج إليه (فى بعض الأوقات).


وعلم النجوم بمنزلة المرض، فتعلمه حرام، لأنه يضر ولاينفع، والهرب عن قضاء الله تعالى وقدره غير ممكن.


فينبغى لكل مسلم أن يشتغل فى جميع أوقاته بذكر الله تعالى والدعاء، والتضرع، وقراءة القرآن، والصدقات [الدافعة للبلاء] [والصلاة] ، ويسأل الله تعالى العفو والعافية فى الدين والآخرة ليصون الله عنه تعالى البلاء والآفات، فإن من رزق الدعاء لم يحرم الإجابة. فإن كان البلاء مقدرا يصيبه لامحالة، ولكن يبر الله عليه ويرزقه الصبر ببركة الدعاء.

Adapun mempelajari amalan agama yang dikerjakan pada saat tertentu seperti shalat jenazah dan lain-lain, itu hukumnya fardhu kifayah. Jika di suatu tempat/daerah sudah ada orang yang mempelajari ilmu tersebut, maka yang lain bebas dari kewajiban. Tapi bila di suatu daerah tak ada seorang pun yang mempelajarinya maka seluruh daerah itu berdosa. Oleh karena itu pemerintah wajib memerintahkan kepada rakyatnya supaya belajar ilmu yang hukumnya fardhu kifayah tersebut. Pemerintah berhak memaksa mereka untuk mereka untuk melaksanakannya.

Dikatakan bahwa mengetahui/mempelajari amalan ibadah yang hukumnya fardhu 'ain itu ibarat makanan yang di butuhkan setiap orang. Sedangkan mempelajari amalan yang hukumnya fardhu kifayah, itu ibarat obat, yang mana tidak dibutuhkan oleh setiap orang, dan penggunaannya pun pada waktu-waktu tertentu.
Sedangkan mempelajari ilmu nujum itu hukumnya haram, karena ia diibaratkan penyakit yang sangat membahayakan. Dan mempelajari ilmu nujum itu hanyalah sia-sia belaka, karena ia tidak bisa menyelamatkan seseorang dari takdir Tuhan.

Oleh karena itu, setiap orang islam wajib mengisi seluruh waktunya dengan berdzikir kepada Allah, berdo’a, memohon seraya merendahkan diri kepada-Nya, membaca Al-Qur’an,dan bersedekah supaya terhindar dari mara bahaya.

--------------------------------------------------------------------------

Tambahan : Menurut Sayyidina Ali Karamallaahu Wajhahu,  bahawa orang yang beribadah itu ada tiga macam :
1) seperti orang yang lagi berjualan yang hanya memikirkan keuntungan (pahala).
2) seperti pegawai yang bekerja karena takut oleh atasannya.
3) didasari dengan rasa cinta tanpa memikirkan untung rugi atau takut, akan tetapi lillahi.

Wallaahu a'lam...


Catatan ini diambil dari resume Ngaji Kitab Ta'limul Muta'alim pada tanggal 12 Mei 2017
Share on Google Plus

About Ari Agustian

    Blogger Comment
    Facebook Comment